Berkah Hujan

oleh : Deandra Rafa Bagaskara (kelas 7ICT)

Hari minggu ini terasa sangat asing bagiku. Entahlah, biasanya hari minggu selalu aku isi dengan kegiatan-kegiatan diluar rumah seperti bermain dengan teman, mengunjungi nenek di kota sebelah, atau hanya berkeliling kompleks bersepeda sendiri. Tapi hari ini lain, aku hanya termenung dan hanya bisa memandang keadaan dari luar sana dari balik jendela kamarku. Padahal aku sudah merencanakan akan ke rumah temanku dan membantunya membersihkan kandang sapi peliharaannya. Sudah terbayang akan seperti asyiknya bermain sambil membantunya.

Musim hujan sudah mulai datang dan turun begitu sering. Itulah yang membuat aku hanya duduk termenung di dalam kamar tanpa melakukan aktivitas apapun. Hujan menjadi sangat menyebalkan kala itu, yang hanya membuatku duduk dan diam tidak melakukan hal apapun. Aku juga lupa kalau kemarin belum menukar buku yang aku pinjam di perpustakaan dengan buku yang baru. Ahh, lengkap sudah kemalanganku di hari yang semakin membosankan ini, pikirku dalam hati. Aku gak tau harus gimana lagi untuk membuang rasa bosan ini, Ayah dan Ibu sedang asyik menonton TV di kamar mereka. Aku bukan tipe orang yang suka duduk depan TV atau komputer dalam waktu lama hanya untuk bermain game. Aku lebih suka menghabiskan waktu bermain di alam bebas.

Saat terasa semakin membosankan, aku melihat sesuatu yang sangat menarik di luar sana. Aku melihat temanku sedang membawa payung dan mondar mandir beberapa kali lewat depan rumahku. Awalnya aku tidak mengira bahwa itu adalah Amru, teman sekelasku. Tetapi semakin aku memperhatikan itu memang benar dia. Ketika dia berbalik setelah mengantar dekat halte, aku segera keluar dari kamarku dan menghampirinya. Aku bertanya padanya, apa yang dia lakukan dengan membawa payung dan bolak balik ke halte. Kulihat bajunya basah, mungkin karena seringnya dia terkena air hujan saat mengantar menuju halte. Aku jadi gak tega melihatnya, karena dia terlihat sangat rapi saat di sekolah tak seperti sekarang yang sangat berantakan. Amru pun akhirnya duduk di teras rumahku dan mengobrol denganku. Dia pun menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan tadi. Ternyata saat cuaca hujan seperti ini dia menjadi ojek payung. Sudah 3 tahun ini dia menjadi ojek payung saat musim hujan, Ia melakukan ini untuk membantu orang tua membayar uang sekolahnya. Hujan merupakan berkah yang sangat besar untuknya. Aku pun menyesal dalam hati karena sebelumnya sangat membenci hujan yang mengacaukan rencana hari mingguku yang menyenangkan.

Aku pun kemudian masuk ke dalam rumah dan meminta izin kepada Ayah dan Ibu untuk menemani Amru. Aku pun tak lupa mengambil payung dan jas hujan. Kuberikan jas hujan satu kepada Amru agar dia tidak basah kuyup lagi. Hari minggu ini akhirnya aku mendapat sebuah pengalaman berharga. Ya, aku membantu Amru menjadi ojek payung. Tentu, semua penghasilanku aku berikan kepada Amru untuk membantu orang tuanya. Aku pun mendapat pelajaran bahwa tidak semua orang menganggap hujan adalah halangan atau bencana, beberapa orang yang seperti petani, ojek payung, dll mengharapkan dan mendapatkan manfaat dari datangnya hujan.